![]()
Kuningan – Tim dosen Universitas Kuningan yang terdiri dari Tri Septiar Syamfithriani, Fahmi Yusuf, dan Dadan Nugraha melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat (PkM) untuk meningkatkan literasi keuangan warga sekaligus mencegah risiko pinjaman online (pinjol) ilegal. Program ini terbukti efektif meningkatkan pemahaman dan perilaku keuangan masyarakat secara signifikan.
Kegiatan pengabdian tersebut telah dipublikasikan dalam Journal of Innovation and Sustainable Empowerment (JISE), Vol. 4 No. 3 Desember 2025, dan dilaksanakan di lingkungan Perumahan Alam Asri, Kabupaten Kuningan 171-177-153-PkM_Literasi+Keuang….
Literasi Keuangan Jadi Kunci Pencegahan Pinjol Ilegal
Ketua tim pengabdian, Tri Septiar Syamfithriani, menjelaskan bahwa rendahnya literasi keuangan rumah tangga membuat masyarakat rentan terjebak pinjaman online ilegal yang menawarkan proses cepat namun berbunga tinggi dan berisiko.
“Banyak warga belum terbiasa menyusun anggaran keluarga dan belum memahami perbedaan pinjaman online legal dan ilegal. Kondisi ini membuat mereka mudah terjebak,” ujarnya.
Empat Tahap Edukasi Berbasis Praktik
Program PkM ini dilaksanakan melalui empat tahap utama, yaitu:
- Survei awal dan persiapan, untuk memetakan tingkat literasi keuangan warga
- Sosialisasi risiko pinjaman online ilegal, menggunakan studi kasus di lingkungan sekitar
- Pelatihan penyusunan anggaran rumah tangga, dengan template sederhana dan praktik langsung
- Pendampingan dan evaluasi, melalui post-test dan monitoring kebiasaan keuangan
Pendekatan partisipatif ini membuat warga terlibat aktif, dengan tingkat partisipasi mencapai 85 persen.
Skor Literasi Keuangan Naik Signifikan
Hasil evaluasi menunjukkan dampak yang sangat positif. Rata-rata skor literasi keuangan warga meningkat dari 46 persen pada pre-test menjadi 79 persen pada post-test, atau mengalami kenaikan sebesar 33 persen.
Peningkatan tertinggi terjadi pada:
- Pemahaman risiko pinjaman online ilegal
- Kemampuan menyusun anggaran rumah tangga
- Pengetahuan tentang alternatif pembiayaan yang aman, seperti tabungan dan koperasi
Fahmi Yusuf, anggota tim pengabdian, menegaskan bahwa pendekatan praktik langsung menjadi kunci keberhasilan program.
“Warga tidak hanya diberi teori, tetapi langsung mempraktikkan pencatatan keuangan dan simulasi anggaran. Ini yang membuat mereka sadar dan mau berubah,” jelasnya.
Perubahan Perilaku Keuangan Warga
Selain peningkatan pengetahuan, program ini juga mendorong perubahan perilaku. Sekitar 70 persen peserta mulai rutin mencatat pengeluaran rumah tangga, dan 50 persen menyatakan komitmen mengurangi penggunaan pinjaman online dalam tiga bulan ke depan.
Menurut Dadan Nugraha, pendampingan pascapelatihan berperan penting dalam membentuk kebiasaan baru yang lebih sehat secara finansial.
“Pendampingan melalui grup komunikasi membuat warga saling mengingatkan dan berbagi pengalaman. Ini memperkuat dampak program,” katanya.
Dapat Direplikasi di Komunitas Lain
Tim pengabdian menilai bahwa model literasi keuangan berbasis sosialisasi, praktik sederhana, dan pendampingan ini sangat mudah direplikasi di komunitas lain, terutama di lingkungan perumahan dan desa yang rentan terhadap praktik pinjaman online ilegal.
Program ini sekaligus menegaskan pentingnya literasi keuangan sebagai strategi preventif untuk melindungi masyarakat dari risiko finansial di era digital.

