Evaluasi Rekam Medis Elektronik untuk Pantau Gizi dan Cegah Stunting di Pedesaan

Posted on

Loading

Kuningan – Stunting masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia, terutama di daerah pedesaan yang akses layanannya terbatas. Menjawab tantangan ini, tim peneliti Universitas Kuningan (Uniku) melakukan evaluasi terhadap aplikasi e-PPGBM (Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) yang digunakan di Puskesmas untuk memantau status gizi balita dan risiko stunting.

Penelitian ini dilakukan oleh Dadan Nugraha, Yulyanto, Rika Nugraha, Fahmi Yusuf, dan Ragel Tri Sudarmo, dan telah dipublikasikan di Journal of Engineering Science and Technology Special Issue on ICAST2024 Vol. 20 No. 2 (2025), jurnal internasional bereputasi Q3.

Dengan menggunakan standar mutu perangkat lunak ISO 25010:2011, penelitian ini menilai enam aspek utama: fungsionalitas, efisiensi kinerja, kegunaan, keamanan, reliabilitas, dan pemeliharaan. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun terdapat keterbatasan infrastruktur dan pelatihan, aplikasi e-PPGBM terbukti efektif dalam memantau status gizi balita serta mendeteksi risiko stunting lebih dini di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

“Pemanfaatan rekam medis elektronik seperti e-PPGBM dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat, terutama di daerah dengan sumber daya terbatas,” ujar Dadan Nugraha, peneliti utama.

Dari sisi keilmuan, riset ini memperkuat bukti tentang pentingnya digitalisasi layanan kesehatan berbasis data, sekaligus memberikan model evaluasi yang dapat digunakan untuk penelitian lanjutan dalam bidang Electronic Medical Records (EMR).

Sedangkan bagi masyarakat, manfaatnya langsung terasa: pencatatan data gizi anak lebih akurat, proses identifikasi risiko stunting lebih cepat, dan pencegahan dapat dilakukan sejak dini. Tim peneliti juga merekomendasikan integrasi analitik prediktif dari data posyandu agar aplikasi semakin optimal membantu petugas lapangan.

“Inovasi ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga upaya konkret mencegah stunting yang berdampak panjang pada kualitas hidup generasi mendatang,” tambah Fahmi Yusuf.

Riset ini menegaskan bahwa kolaborasi antara teknologi informasi dan kesehatan mampu menghadirkan solusi nyata untuk problem sosial, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan masyarakat.

Artikel telh dipublikasikan : Journal of Engineering Science and Technology Special Issue on ICAST2024 Vol. 20, No. 2 (2025) 36 – 43 © School of Engineering, Taylor’s University