Publish di S3: Chatbot Pintar untuk Edukasi Demam Berdarah

Posted on

Kuningan – Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius di Indonesia, terutama di daerah dengan kepadatan penduduk tinggi dan kebersihan lingkungan yang kurang terjaga. Menghadapi tantangan tersebut, tim peneliti dari Universitas Kuningan (Uniku) berhasil mengembangkan chatbot berbasis algoritma Long Short-Term Memory (LSTM) untuk membantu masyarakat mendapatkan informasi cepat dan akurat tentang pencegahan serta penanganan DBD.

Penelitian yang dilakukan oleh Heru Budianto, Fahmi Yusuf, Dede Irawan, Muhamad Akhirul Sidik, Aiena Nurhasanah, Sabrina Maulidya, dan Silmi Nur Afifah ini telah dipublikasikan di Jurnal Sistemasi Vol. 14 No. 2, 2025, yang terakreditasi Sinta 3.

Chatbot yang dikembangkan mampu menjawab berbagai pertanyaan seputar DBD, mulai dari gejala, penyebab, cara pencegahan, hingga penanganan awal. Hasil pengujian menunjukkan akurasi chatbot mencapai 100% dengan nilai loss hanya 0,0221, yang artinya sistem mampu memberikan jawaban relevan dan konsisten kepada pengguna.

“Selama ini informasi tentang DBD masih terbatas jangkauan dan waktunya. Dengan chatbot ini, masyarakat bisa memperoleh edukasi kesehatan kapan saja secara interaktif,” jelas Heru Budianto, peneliti utama.

Dari sisi keilmuan, riset ini menjadi kontribusi penting dalam pengembangan teknologi Natural Language Processing (NLP) berbasis deep learning, khususnya penerapan algoritma LSTM pada chatbot. Hasil penelitian ini dapat menjadi referensi akademik untuk pengembangan aplikasi serupa di bidang kesehatan maupun layanan publik lainnya.

Sementara bagi masyarakat, manfaatnya sangat nyata. Chatbot dapat dijadikan sarana edukasi digital untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, melakukan langkah pencegahan, serta mengenali gejala DBD lebih awal. Dengan begitu, keterlambatan penanganan dapat diminimalkan, dan risiko fatalitas akibat DBD bisa ditekan.

“Harapan kami, chatbot ini bisa diintegrasikan ke platform layanan kesehatan masyarakat agar semakin banyak warga yang terbantu dalam mengakses informasi penting mengenai DBD,” tambah Fahmi Yusuf, salah satu anggota tim peneliti.

Inovasi ini membuktikan bahwa kolaborasi antara teknologi dan kesehatan mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan masyarakat, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan sosial.

Artikel ini telah terbit di : https://sistemasi.ftik.unisi.ac.id/index.php/stmsi/article/view/5060